5 Destinasi Wisata Bagus di Grobogan

Kabupaten Grobogan merupakan nama sebuah kabupaten yang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Jawa Tengah (Jateng).Kabupaten Grobogan beribukota di Kota Purwodadi. Nama Purwodadi sendiri lebih terkenal dibandingkan dengan Kabupaten Grobogan, sehingga banyak yang mengira Purwodadi ini nama Kabupaten, padahal hanya nama sebuah kota. Kabupaten Grobogan memiliki luas wilayah 1.975,85 km². Secara geografis diapit oleh dua pegunungan kapur yaitu pegunungan Kendeng bagian selatan dan pegunungan Kapur utara dibagian utara. Batas wilayah sebelah timur Kabupaten Blora, sebelah barat Kabupaten Semarang dan Kabupaten demak, sebelah selatan Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Ngawi, disebelah utara Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati.Purwodadi terkenal dengan wisata kulinernya yang sangat unik yaitu swike kodok. Selain itu Grobogan juga memiliki potensi wisata yang bisa kamu singgahi ketika berada di kabupaten ini.

  1. Bledug Kuwu

Bledug Kuwu adalah sebuah fenomena gunung api lumpur, seperti halnya yang terjadi di Porong, Sidoarjo. Tetapi sudah terjadi jauh sebelum jaman Kerajaan Mataram Kuno (732M – 928M). Terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan (Purwodadi). Tempat tersebut dapat ditempuh kurang lebih 28 km ke arah timur dari kota Purwodadi. Selain obyek Bledug Kuwu masih ada wisata sumber api abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo. Obyek yang menarik dari Bledug Kuwu ini adalah letupan-letupan lumpur yang mengandung garam dan berlangsung antara dua hingga tiga menit dengan diameter ± 650 meter. Secara etimologi, nama Bledug Kuwu berasal dari Bahasa Jawa. Yaitu bledug yang berarti ledakan/ meledak dan kuwu yang diserap dari kata kuwur yang berarti lari/ kabur/ berhamburan.

Menurut sejarah asal usul nama Bledug Kuwu, yaitu sebuah kawah lumpur (bledug) yang berlokasi di Kuwu. Kawah tersebut secara berkala melepaskan lumpur mineral, dalam bentuk letupan besar (setinggi hingga 2 m). Oleh penduduk setempat, lumpur ini dimanfaatkan mineralnya untuk pembuatan konsentrat garam, yang disebut bleng dan dipakai dalam pembuatan kerupuk karak. Legenda yang beredar turun temurun, Bledug Kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan Laut Selatan (Samudera Hindia). Konon lubang itu merupakan jalan pulang Joko Linglung dari Laut Selatan menuju kerajaan Medang Kamulan, setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan. Joko Linglung konon bisa membuat lubang tersebut. Karena dia bisa menjelma menjadi ular naga yang merupakan syarat, agar dia diakui sebagai anaknya Raden Ajisaka.

  1. Goa Macan Dan Goa Lawa

Wisata alam yang terdapat di Kabupaten Grobogan lainnya adalah berupa Goa. Kita tahu bahwa di wilayah Kabupaten Grobogan terdapat pegunungan kapur yang cukup besar, sehingga ada beberapa goa yang terbentuk secara alami. Goa yang terdapat di Kabupaten Grobogan ini diantaranya adalah Goa Macan dan Goa Lowo. Kedua goa ini terletak berdekatan. Nama kedua goa ini dinamakan dengan nama binatang yang dahulu sering menghuni goa ini. Namun saat ini sudah tidak ada macan yang terdapat di goa macan, tinggal namanya sajaDi kedua goa ini dapat anda lihat pemandangan alam yang indah berupa goa di tengah rimbunnya pohon dan didalamnya terdapat banyak stalaktid dan stalagmit. Untuk menuju Gua Macan dan Lawa tidak terlalu jauh, sekitar 5 kilometer dari Purwodadi, Ibu Kota Grobogan. Letaknya di kawasan hutan kawasan KPH Purwodadi tepatnya di Dusun Watu Song Kelurahan Sedayu Kecamatan Sedayu Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Untuk mencapai Goa ini kita harus melalui jalanan yang menanjak, menurun serta berliku. Tapi jangan khawatir, jalan yang dilalui bukanlah jalan setapak yang licin tapi jalan yang dilalui untuk menuju Goa ini sudah dikeraskan. Tidak perlu berjalan kaki untuk mencapai lokasi wisata ini. Karena mobil sudah dapat menjelajah jalan sepanjang dua kilo meter menuju lokasi ini. Gua Lowo atau Gua Kelelawar adalah tetangga dari Gua Macan, letaknya pun bersebelahan. Gua lowo, sesuai dengan namanya, memang dihuni banyak kelelawar. Pengunjung yang menyambangi Gua Macan pasti juga akan menyempatkan mampir ke Gua Lowo, begitu juga sebaliknya. Perbedaan Gua Lowo dengan Gua Macan terletak di Stalaktit dan Stalakmit yang ada di dalam gua. Stalaktit dan Stalakmit di Gua Lowo lebih banyak sehingga sedikit menyulitkan pengunjung untuk menikmati pesona dalam gua.

  1. Air Terjun Widuri

Lokasi terletak di tengah kawasan hutan jati Desa Kemaduh Batur, Kecamatan Tawangharjo, Aksesbilitas berjarak kurang lebih 21 km sebelah timur laut kota Purwodadi di jalan raya Purwodadi Blora km 17. Kabupaten Grobogan, Air terjun widuri memiliki tinggi kurang lebih 50 meter. Hingga sampai sekarang Wana wisata air terjun widuri tersebut masih berkembang, yang pembangunannya dikelola oleh swadaya masyarakat dan akses jalannya di bangun PNPM Mandiri serta LH (lingkungan hidup), disamping wisata tersebut sangat berpotensi, juga terlihat memajukan desa yang tertinggal, dan sangat membantu bagi para pecinta alam untuk menikmati suasna tersebut, dan pencari ispirasi, karana wisata tersebut adalah salah satu wisata yang sangat berkembang kususnya di kabupaten Grobogan. Mesti agak berbukit turun naik jika ingin ketempat lokasi air terjun, namun hawanya sangat sejuk dan bisa melihat pemandangan yang indah disekitarnya. Tak hanya panoramannya yang sangat menarik dan indah, selain itu pemandian air terjun tersebut dipercayai warga setempat dan warga luar daerah bisa sebagai pelantara atau sarana pennyembuhan penyakit kulit di hari tertentu, jika mandi ditempat itu.

Dan nama Widuri sendiri berasal dari kata Widodaren (Bidadari). Menurut cerita warga setempat,> “konon suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat tersebut, lalu Jaka Tarub Di gunung itu melihat sebuah telaga, tempat tujuh bidadari mandi. Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu bidadari tersebut bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang. Akhirnya munculah Jaka Tarub yang datang menolong, Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan, hingga bidadari tersebut bersedia ikut pulang kerumahnya. Kemudian Keduanya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih.

  1. White Canyon/Tugu Lasi

Tak hanya Green Canyon Pangandaran atau Brown Canyon di Semarang, di Grobogan Jawa Tengah juga ada yang namanya White Canyon atau juga dikenal dengan Tugulasi. White Canyon di Grobogan ini sebelumnya adalah kawasan bekas penambangan bukit Kapur. Seperti namanya tebing-tebing tersebut berwarna putih keemasan. Tugu lasi terletak di desa Mrisi, kecamatan Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Berjarak kurang lebih 8 kilometer di selatan kota Gubug. Tempat ini terbentuk karena penambangan secara manual selama puluhan tahun.

Nah, bagi Anda yang suka berpetualang White Canyon ini bisa jadi pilihan yang cocok. Selain itu tempat ini juga cocok untuk hunting foto yang keren. Tempat ini paling juara jika difoto saat senja. Kala matahari mulai terbenam, pancaran jingga sinar mentari akan mempertegas warna keemasan dari tebing kapur menjadikan suatu objek foto yang keren banget.

  1. Lumpur Kesongo

Sumber Lumpur Kesongo merupakan sebuah keajaiban alam yang ada di KPH Randublatung. Ia terletak di petak 141 RPH Padas, BKPH Trembes dengan luas sekitar 100 Ha, berupa hamparan tanah kosong yang sebagian ditumbuhi rumput serta genangan air (rawa) dan menjadi tempat singgahnya beberapa jenis burung. Dengan jarak sekitar 30 km dari arah Randublatung ke barat (Kecamatan Gabus, kabupaten Grobogan), Sumber Lumpur Kesongo memiliki keistimewaan, yaitu letupan-letupan lumpur dingin di setiap saat dan bersifat sporadic. Selain itu pada titik ledakan yang dinamakan “keraton” bisa mengeluarkan letupan lumpur apabila dituang dengan susu cair. Letupan tersebut dipercaya bisa menggambarkan seberapa kuat dan besar keinginan pengunjung tentang suatu niat. Ritual ini bisa dilakukan dengan dipandu oleh jurukunci.Kesongo ditetapkan sebagai situs ekologi oleh KPH Randublatung. Lokasi sekitarnya dimanfaatkan oleh masyarakat dukuh Pekuwon Lor dan Sucen mencari rumput wlingi (Scirpus grossus L.), rumput Grinting (Cynodon dactylon) dan Rumput Sunduk Welut (Cyperus difformis).

Kawasan kesongo juga merupakan habitat beberapa jenis burung (aves) seperti Bangau tong-tong (leptotilos javanicus), manyar jambul (Ploccus manyar), belibis (Dendrocygna javanica), Belibis Batu (Dendrocygna javanica), Alap-alap capung (Microhierax frigillarius). Ditemukan pula 6 jenis amfibi, yaitu Katak Tegalan (Fejervarya limnocharis), Katak Hijau/Sawah (Fejervarya cancrivora), Bencok (Rana chalconota), Bangkong Kerdil (Limnonectes microdiscus), Kongkang Jengkrik (Rana nicobariensis), Katak Pohon Jawa (Rhacoporus javanus). Kesongo dianggap keramat oleh penduduk sekitar karena ada kaitannya dengan legenda jawa Joko linglung. Konon di tempat tersebut pernah ada kejadian hilangnya 9 anak gembala yang ditelan oleh ular penjelmaan Joko Linglung.

Keajaiban lain di padang kesongo tersebut kadang juga terjadi letupan besar yang dinamai “kurdo” oleh masyarakat. Kurdo ini biasanya menelan korban berupa matinya puluhan burung yang bersarang di kawasan itu. Korban letusan berupa beberapa jenis burung oleh beberapa orang dimanfaatkan untuk lauk sehari – hari. Pada jam-jam tertentu, kita bisa melihat segerombolan burung Bangau Tongtong dan sekawanan kerbau milik masyarakat yang dilepaskan di padang rumput. Ini menjadi obyek yang menarik, selain pemandangan alam berupa hamparan lumpur lembab yang meletup-letup keluar dari perut bumi.

Top

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *