Category: Banjarmasin

5 Destinasi Wisata yang Menjadi Daya Tarik Wisatawan di Banjarmasin

Banjarmasin merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai kota terbesar sekaligus yang terpadat di luar Pulau Jawa. Keadaan geografisnya didominasi oleh aliran sungai—baik yang besar maupun yang kecil—seperti halnya Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Maka tak heran jika kota ini diberi julukan “Kota Seribu Sungai”. Banjarmasin memiliki julukan Kota Seribu Sungai, karena memang pusat Kota Banjarmasin dibelah oleh banyak sekali sungai, seperit Sunga Martapura, Barito,  sungai Sipandai, sungai Sigaling, sungai Keramat, sungai Jagabaya, sungai Pangeran dan masih banyak sungai lainnya yang membuat wilayah Banjarmasin yang seluas seluas 72 km² menjadi delta atau kepulauan yang terdiri dari sekitar 25 buah pulau kecil (delta). Selain itu Banjarmasin dikenal dengan pasar tradisionalnya yang berada di atas air atau biasa disebut pasar terapung. Hal ini menjadikan sungai sebagai salah satu bagian terpenting bagi kehidupan warga Banjarmasin. Banjarmasin memiliki udara yang masih sangat asri dan sejuk. Banjarmasin sendiri kini membangun sebuah kota metropolitan terbesar di Indonesia yang ke sembilan bergabung dengan Banjarbaru, yaitu Banjar Bakula. Selain itu Banjarmasin juga memiliki daya tarik wisatanya yang indah. Berikut beberapa destinasi wista yang bisa dikunjungi di Banjarmasin.

  1. Pasar Terapung

Salah satu keunikan saat mengunjungi kota Banjarmasin yaitu pasar terapung yang merupakan cirri khas dari Banjarmasin. Pasar terapung adalah sebuah pasar yang melakukan transaksi jual beli dilakukan diatas perahu yang mengapung di air. Setiap pagi hari pasar penuh dengan pedagang dan pembeli yang bertransaksi jual beli, tentunya di atas perahu yang saling berdekatan. Hampir semua barang-barang kebutuhan pokok dapat dibeli di pasar terapung. Bahkan, tidak sedikit orang yang menjajakan masakan, makanan, dan minuman juga secara terapung. Anda sebagai wisatawan juga bisa sekedar membeli buah, makanan, atau minuman di pasar terapung untuk merasakan sendiri sensasi beraktivitas di atas perahu kayu yang bergoyang-goyang.

Maka tak heran jika tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata yang paling banyak di kunjungi, tepat berada dimuara sungai barito dikleurahan kuin utara Banjarmasin. Pasar tersebut di perkirakan sudah ada sejak tahun  400 tahun lalu, yang menjual berbagai macam hasil kebun sampai pakaian yang berlangsung dari jam 5 pagi sampai 7 pagi. Keunikan dari pasar ini yaitu tongkat dengan ujung kawat yang berfungsi untuk mengambil barang yang dibeli karena sulit untuk mendekati perahu. Di dunia hanya ada tiga pasar terapung yang original lho. Satu di Thailand dan duanya ada di Indonesia. Di Indonesia keduanya ada di Banjarmasin. Kedua pasar terapung tersebut adalah Pasar Terapung Kuin dan Pasar Terapung Lok Baintan. Saya sendiri sudah pernah ke Pasar Terapung Lok Baintan namun belum ke yang di Kuin.

Pasar Terapung Kuin: Seperti namanya, pasar ini terapung di muara sungai kuin yang membuat pasar ini menarik dan juga berbeda dengan pasar pasar lainnya. Anda bisa bertualang ke pasar ini menggunakan perahu yang bernama kelotok sambil berbelanja atau sekedar melihat lihat saja. Pasar Terapung Kuin ini daya tarik dari berbagai macam wisatawan yang berkunjung ke kota Banjarmasin. Pasar apung ini berada tidak jauh dari pusat kota, di muara Sungai Kuin yang merupakan salah satu dari anak sungai Barito. Sedangkan yang kedua adalah Pasar Terapung Lok Baintan: Kalau anda tidak puas melihat Pasar Apung Kuin, anda bisa mengunjungi Pasar Apung Lok Baintan yang biasa memulai  dari pukul 05.00 sampai sekitar pukul 09.00 WITA. Di pasar ini, kita akan menemukan beberapa transaksi barter. Barang yang diperjualbelikan disini sangatlah beragam, mulai dari sayuran, buah-buahan, jajanan, sampai barang-barang kebutuhan pokok.

  1. Pulau Kembang

Salah satu pulau yang menjadi pesona para pengunjung di Banjarmasin adalah Pulau Kembang. Pulau Kembang merupakan sebuah delta yang terletak di tengah Sungai Barito, tepatnya di Pulau Alalak, kecamatan Alalak, kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Tempat wisata ini terletak sekitar 1,5 km dari pusat kota Banjarmasin. Pulau ini bisa dicapai dengan kelotok yang banyak disewakan di sekitar Pasar Terapung. Di sini Anda bisa menemukan beragam habitat monyet dengan burung-­burung dari berbagai macam jenis.

Selain itu, pemandangan yang ada di pulau Kembang juga sangat mempesona dengan suasana penghijauan yang masih asri. Menurut warga, di pulau ini terdapat seekor monyet besar yang merupakan raja monyet. Saat berada di pulau ini, berhati-hatilah dengan barang bawaan Anda. Monyet-monyet seringkali penasaran dan ingin melihat apa saja yang Anda bawa. Jika anda berkunjung ke sini sebaiknya bawa makanan ringan atau buah-buahan untuk mengalihkan perhatian mereka dari tas Anda. Menariknya, di pulau ini terdapat sebuah kuil dan altar dengan arca berbentuk monyet putih atau Hanoman. Altar ini, oleh warga Tionghoa, digunakan untuk meletakkan sesaji pada saat-saat tertentu. Harga tiket masuk ke tempat ini yaitu Rp. 5.000 untuk wsisatwan lokal sedangkan untuk wisatawan mancannegara Rp. 25.000.

  1. Taman Siring Sungai Martapura

Taman Siring adalah wisata baru yang dikembangkan di tepian sungai Martapura.Taman Siring ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Banjarmasin, Kalimantan Selatan tepatnya di seberang Kompleks Masjid raya Sabilal Muhtadin. Dinamakan sebagai Taman Siring Sungai Martapura, karena letaknya yang berada tepat di bagian tepian sungai. Tempat wisata Banjarmasin yang satu ini tak pernah sepi dikunjungi para wisatawan, terutama di sore hari. Taman ini memiliki keistimewaan dengan memiliki tempat yang nyaman untuk kegiatan bersantai, nongkrong, bermain, menikmati pemandangan serta melakukan kegiatan lainya di sekitar taman siring seperti menikmati kuliner khas Banjar. Jika Anda berkunjung ke tempat wisata ini, maka Anda akan melihat aneka ragam perahu khas daerah Banjarmasin. Bagi Anda yang hobi memancing, sangat dianjurkan untuk membawa peralatan pancing karena Anda bisa memancing hingga puas di Taman Siring Sungai Martapura ini. Tak hanya itu saja, di sini juga bisa menikmati aneka macam kuliner yang lezat­-lezat sebagai kuliner khas dari Banjarmasin. Wahana wisata di Banjarmasin yang satu ini direkomendasikan bagi Anda yang ingin menikmati wisata budaya yang sangat menarik. Di taman ini ditumbuhi banyak pohon sehingga suasananya rindang dan sejuk. Pohon-pohon di sini berjenis penopang tanah bantaran sungai seperti trembesi yang memang sengaja ditanam oleh Pemerintah Kota Banjarmasin agar sungainya lestari.

Lantai Siring ini terdiri dari bebatuan bermotif. Ada juga yang timbul, sering dipakai pengunjung untuk refleksi kaki. Di dua bagian ujung Siring sepanjang satu kilometer ini ada dermaga apung. Ada juga dermaga khusus pasar terapung yang biasanya dipakai para pedagang pasar terapung untuk berjualan pada Minggu pagi. Di bagian tengahnya ada Menara Pandang, gazebo, dan dua rumah tua yang sudah diperbaiki oleh Pemerintah Kota Banjarmasin dan dijadikan tempat wisata.

Dari atas Menara Pandang Anda bisa melihat daerah sekitar Siring Banjarmasin. Fasilitas ditaman ini juga tersedia dari toilet, tempat ibadah, sampai hotspot area. Ada beberapa perahu yang berada di tepian sungai, perahu ini siap mengantar wisatawan menyusuri sungai martapura. Untuk memasuki area wisata tersebut, Anda hanya dipungut biaya parkir kendaraan sebesar Rp 2.000. Di akhir pekan juga banyak komunitas berkumpul di area Taman Siring Banjarmasin. Mereka juga ikut meramaikan Taman ini.

Komunitas-komunitas tersebut bisa menjadi hiburan bagi masyarakat yang berkunjung. Komunitas itu antara lain komunitas inlineskate, skateboard, BMX, sepeda motor, boat modelling, dance, photography, Baisan Pemadam Kebakaran, dan masih banyak lagi.

  1. Kampung Sasirangan

Kampung Sasirangan adalah tempat pembuatan batik khas Banjarmasin yaitu Kain Sasirangan dimana pembuatan batik ini masih menggunakan cara tradisional seperti kerajinan batik di pulau jawa. Kampoeng BNI Sasirangan Banjarmasin atau sering disingkat Kampung Sasirangan terletak di  Jalan Seberang Masjid, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sejak tahun 2010 telah dijadikan salah satu obyek wisata souvenir kerajinan kain dan busana Sasirangan. Sasirangan merupakan kain tradisional khas Kalimantan Selatan (Kalsel), dan biasanya menjadi cinderamata favorit para turis yang berkunjung ke Kalsel. Sasirangan berasal dari kata bahasa Banjar yang artinya diikat atau dijahit dengan menggunakan tangan. Memang dulunya Sasirangan adalah pakaian adat Suku Banjar dan hanya dipakai untuk upacara adat tertentu, salah satunya adalah upacara penyembuhan bagi seseorang yang terkena suatu penyakit. Tapi sekarang, Sasirangan sudah biasa dipakai untuk bahan pakaian sehari-hari. Baik pakaian resmi atau non resmi. Sampai saat ini, ada sekitar 30 jenis motif kain Sasirangan. Kegiatan menyirang ini punya efek menenangkan jiwa, begitu pula warna-warna yang dihasilkan. Oleh sebab itu, Sasirangan ini dipercaya sebagai kain penyembuh jiwa.

Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna. Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, melalui teknik jahitan tangan dan ikatan. Nama Sasirangan sendiri berasal dari kata sirang yang dalam bahasa setempat berarti diikat. Kain bermotif unik ini dikenal pula dengan kain calapan atau kain celupan. Disebut demikian karena kain sasirangan dibuat dnegan cara diikat lalu diwarnai dengan cara dicelupkan ke cairan pewarna. Setelah dipola, kain putihan akan diikat secara menyilang mengikuti motif yang sudah ditentukan. Semakin banyak warna dan motif, tentu memerlukan proses pengerjaan yang lebih lama dan lebih rumit. Adapun corak atau motif yang dikenal antara lain Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Turun Dayang, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Kulit Kayu, Sarigading, Parada dan lain-lain. Produk barang jadi yang dihasilkan dari Kain Sasirangan yaitu Kebaya, Hem, Selendang, Jilbab, Gorden, Taplak Meja, Sapu Tangan, Sprei dll.

Kain Sasirangan dulunya adalah pakaian adat yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Bahkan kain ini mulanya digunakan untuk kesembuhan bagi orang yang tertimpa suatu penyakit (pamintaan). Anda bisa naik angkot dengan tarif Rp 3.000 dari terminal induknya di Pasar Sentra Antasari jurusan Pasar Lama. Anda lalu dapat turun di perempatan lampu merah dekat pasar itu, setelah itu Anda bisa berjalan kaki sebentar menuju ke Kampung Sasirangan karena lokasinya bersebelahan dengan Pasar Lama.

  1. Museum Wasaka

Museum Wasaka terletak di Gang H Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Museum ini berada di tepi sungai Martapura, berdampingan dengan Jembatan 17 Mei (Jembatan Banua Anyar) yang besar, panjang, dan kokoh. Museum Wasaka diresmikan pada 10 November 1991, bertempat di rumah Banjar Bubungan Tinggi yang kemudian dialihfungsikan dari bangunan hunian menjadi museum. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya konservasi dan menjaga kelestarian bangunan tradisional Banjar. Museum Wasaka merekam jejak perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Terdapat lebih kurang 400 benda bersejarah yang dipamerkan di museum ini, terutama yang berkaitan dengan sejarah perjuangan rakyat dan pemuda Kalimantan Selatan.

Wasaka sendiri adalah singkatan dari Waja Sampai Kaputing yang berarti perjuangan yang tiada henti hingga tetes darah penghabisan. Kalimat itu merupakan moto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Inilah tempat wisata di Banjarmasin yang mengandung unsur sejarah. Pasalnya, di dalam museumnya bisa dilihat dan dinikmati berbagai peninggalan sejarah yang berkaitan dengan perlawanan rakyat Kalimantan dalam melawan penjajah Belanda. Misalnya, koleksi foto, seragam perjuangan, mesin ketik, berbagai senjata tradisional dan modern, dan lain sebagainya. sebuah benda sejarah yang menarik banyak wisatawan yang datang ke Museum Wasaka, yaitu teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 17 Mei 1949. Jadi, 4 tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Bung Karno, rakyat Kalimantan baru menyusul kemerdekaannya.

Hal itu dikarenakan pada saat perjanjian Linggarjati ditandatangani pulau Kalimantan tidak termasuk ke dalam wilayah Indonesia. Namun demikian, rakyat Kalimantan juga ingin menikmati kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Oleh karena itu, mereka melawan dengan sengit hingga akhirnya bisa bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi yang menyukai wisata sejarah, Meseum Wasaka bisa menjadi pilihan terbaik untuk berlibur. Anda pun bisa menemukan informasi dan warisan sejarah dari zaman perjuangan kemerdekaan. Museum Wasaka beroperasi dari hari Selasa-Kamis, mulai pukul 09.00-12.00 WITA, kemudian dibuka kembali pukul 13.30-15.00 WITA. Sedangkan pada hari Jumat, museum dibuka mulai pukul 09.00-11.00 WITA dan Sabtu-Minggu pukul 09.00-12.30 WITA. Museum tutup pada hari Senin dan libur nasional.

Top