Category: Ngawi

5 Destinasi Wisata Menarik dan Terkenal di Ngawi

Kabupaten Ngawi terletak di bagian barat provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Akses menuju Ngawi bisa dikatakan sangat mudah ditempuh karena letaknya yang strategis, sehingga bagi anda yang menggunakan transportasi umum pun bisa menuju kesana dengan mudah. Asal muasal Ngawi dari kata Awi yang berarti “bambu” bahasa sangsekerta, ditambahin dengan awalan “NG” jadi Ngawi, berarti dari asal mula kata “Ngawai” kota ini dulu banyak pohon Bambu. Selain itu ngawi juga di juluki sebagai Kota “kripik tempe” karena di ngawi terdapat kripik tempe yang khas dan jarang ada di kota lainya. Julukan terakhir untuk kota ngawi yaitu “Kota Yang Ramah” , julukan tersebut lah menjadi slogan kota ngawi. Ngawi mempunyai pesona wisata yang beragam, mulai dari wisata alam, tempat bersejarah dan juga tempat permainan modern. Berikut ini beberapa tempat wisata yang bisa anda kunjungi ketika berada di ngawi.

  1. Benteng Pendem Ngawi

Benteng Pendem merupakan bangunan peninggalan pada masa kolonial Belanda yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi Kota. Benteng memiliki ukuran bangunan 165 m x  80 m dengan luas tanah 15 Ha. Lokasinya mudah dijangkau yakni  dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi +/- 1 Km arah Timur Laut. Letak Benteng benteng ini sangat strategis karena berada disudut pertemuan sungai bengawan Solo dan sungai Madiun. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih  rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam. Awalnya benteng ini memiliki nama benteng Van Den Bosch. Namun karena keunikan bangunannya yang lebih rendah dari tanah di sekitarnya, maka benteng ini kemudian lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem (berasal dari kata terpendam).

Pada abad 19 Kota Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda diwilayah  Madiun dan sekitarnya  dalam perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan melawan Belanda yang berkobar didaerah dipimpin oleh kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis  Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia –Belanda membangun sebuah Benteng yang selesai pada tahun 1845 yaitu Benteng Van Den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Van Den Bosch. Didalam benteng ini sendiri terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng ini, konon katany K.H Muhammad Nursalim ini adalah orang yang menyebarkan agama islam pertama di Ngawi, dan memiliki kesaktian yang tinggi, yaitu tidak mempan ditembak, oleh karena itu maka beliau dikubur hidup-hidup.

Jam operasional benteng pendem dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Pengunjung dikenakan biaya masuk Rp 5.000/orang. Pengunjung yang membawa kendaraan mobil perlu membayar parkir sebesar Rp 3.000. Sementara para pengendara sepeda motor hanya perlu membayar Rp 1.000 saja untuk parkir.

  1. Air Terjun Pengantin

Air Terjun Pengantin ini terletak di desa Hargomulyo kecamatan Ngrambe. Air Terjun Pengantin memiliki ketinggian lebih kurang 12 meter. Air Terjun Pengantin ini belum banyak diketahui oleh para wisatawan. Konon, diberi nama Air Terjun Pengantin karena sepasang air terjun itu yang letaknya berdampingan. Berdasarkan penuturan penduduk sekitar, sebenarnya air terjun ini dulunya bernama Grojokan Jumog atau Dugji. Grojokan merupakan sebutan orang Jawa dari air yang jatuh ke bawah. Namun karena air terjun terbelah menjadi dua bagian, maka air terjun ini dinamai Air Terjun Pengantin. Disini terdapat mitos saat wisata di air terjun pengantin Ngawi bahwa didapatkan dari cerita warga setempat yang menyebutkan, konon ada sepasang kekasih yang pernah datang ke sana berdua, ternyata hubungan mereka malah semakin langgeng hingga naik pelaminan. Nah, mitos juga mengatakan bahwa jika yang datang adalah sepasang suami istri dan kemudian menyentuh air terjun pengantin ini, maka hubungan mereka akan makin awet. Namanya juga mitos, bisa benar atau tidak yang jelas kita semua meyakini bahwa jodoh setiap orang itu tentu saja sudah ada Tuhan yang menentukannya.

Wisata Ngawi air terjun pengantin ini merupakan objek wisata yang paling populer di Ngawi karena dikenal dengan keindahan panoramanya. Suasananya yang alami di air terjun ini membuat kita merasa damai, sejuk dan asri karena terletak ditengah rerimbunan hutan bambu. Saking populernya, objek wisata ini bahkan menjadi salah satu inspirasi dari sebuah film layar lebar bergenre horror di Indonesia. Sebelum tiba di lokasi air terjun pengantin Anda terlebih dulu harus melewati jalan tanah setapak yang cukup menanjak. Pada saat musim hujan tiba, area wisata ini tentu saja menjadi becek dan penuh dengan lumpur sehingga kurang nyaman untuk dikunjungi. Sebaiknya Anda berkunjung ke objek wisata ini pada saat musim kemarau tiba agar bisa menikmati keindahan air terjun dari segala arah.

Untuk menikmati Air Terjun Pengantin, dikenakan biaya sebesar Rp. 4.000/orang dan biaya parkir sebesar Rp. 2.000 untuk sepeda motor dan Rp. 3.000 untuk mobil. Selain itu di tempat wisata ini juga menyediakan beberapa Fasilitas seperti; tempat parkir untuk sepeda motor dan mobil walaupun tidak terlalu luas. Selain itu juga tersedia toilet di area Air Terjun Pengantin yang berada di bawah. Sayangnya hanya terdapat satu toilet saja di area bawah. Terdapat juga warung-warung kecil di depan rumah warga yang berada di dekat pintu masuk Air Terjun. Untuk beribadah (Sholat), pengunjung dapat menggunakan mushola yang letaknya tidak jauh dari Air Terjun Pengantin.

  1. Kebun Teh Jamus

Kebun Teh Jamus terletak di lereng Gunung Lawu sebelahutara, atau tepatnya di Desa Girikerto Kecamatan Sine 40 Km kearah Barat daya kota Ngawi. Salah satu kebun teh paling indah di Jawa Timur adalah di perkebunan teh Jamus, kabupaten Ngawi. Kebun teh ini memiliki luas total 478,2 Ha, sekitar 418 Ha ditanami teh dan 60,2 ha lainnya ditanami beragam pohon Jalan raya menuju Kebun Teh Jamus juga lumayan bagus dan tidak banyak berlubang, hanya saja jalanannya agak sempit untuk dilalui mobil. Dari kota Ngawi sendiri, wisatawan bisa menuju arah barat daya sekitar 40 kilometer demi mencapai tempat ini. Udaranya juga tidak terlalu dingin, tapi sejuk. Obyek wisata ini dikelola oleh PT. Candi Loka yang memproduksi teh dan air mineral Jamus. Bernuansa tropis, hijau, sunyi, damai indah dan sejuk merupakan gambaran dari suasana perkebunan teh.

Sejarah Kebun Teh Jamus Ngawi pada awalnya merupakan perkebunan milik Kolonial Belanda yang dibangun tahun 1886 dan didirikan oleh pengusaha Belanda bernama Van der Rap. Perkebunan teh ini mengalami pergantian pengelola beberapa kali selama masa penjajahan hingga setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Mulai tahun 1973 hingga saat ini Perkebunan Teh Jamus dikelola oleh perusahaan swasta bernama PT Candi Loka.

Selain panorama hamparan hijau kebun teh yang sangat indah, suasana sejuk yang ditawarkan setiap pergi ke kebun teh juga tentunya bisa memberikan kesegaran tersendiri. Seperti Disini pengunjung akan dimanjakan dengan suasana alam sekitar yang masih sangat asri, yang dikelilingin perbukitan unik berundak. Masyarakat setempat menyebut bukit ini sebagai bukit Borobudur karena bentuknya yang menyerupai candi berundak. Tak hanya itu, di wisata Jamus Ngawi yang satu ini juga terdapat fasilitas wisata tambahan untuk pengunjung yakni outbond. Harga tiket masuk Kebun Teh Jamus juga tidak terlalu mahal, hanya kurang dari Rp. 10.000,- saja per orang.

  1. Museum Trinil

Museum Trinil terletak Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Berjarak sekitar 15 km dari sebelah Barat Kota Ngawi sehingga membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit perjalanan. Tempat ini berisi sejarah manusia purba beserta kehidupan purba lainnya yang ditemukan oleh arkeologis Belanda bernama Eugene Dubois tahun 1891 sampai dengan tahun 1892. Selain itu disitus ini juga ditemukan fosil banteng dan gajah purba yang sangat berguna bagi penelitian dan pendidikan khususnya dibidang sejarah kepurbakalaan. Sedangkan Penyebutan nama Trinil berawal dari tiga nama desa yang menjadi objek penelitian Eugene Dubois mengenai Fosil. Tiga desa tersebut meilputi Desa Kawu, Desa Gemarang dan Desa Ngancar sehingga diberi sebutan Tri. Ketiga desa tersebut berada dalam kawasan bengawan solo dimana bengawan ini memiliki debit air yang besar layaknya sungai Nil yang berada di Mesir sehingga dikiaskan dengan sungai Nil dan jadilah nama yang disebut Trinil.

Dalam komplek museum ini disajikan berbagai peralatan hidup dan fosil2 peninggalan masa prasejarah yang ditemukan sepanjang airan sungai Solo. Selain mengamati dan menikmati koleksi museum pengunjung juga ditawari pemandangan Sungai Solo dari ketinggian sehingga bisa membayangkan bagaimana kehidupan jaman pra sejarah di sepanjang Sungai Solo. Saat ini Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektar, dimana koleksinya di antaranya fosil tengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba (Stegodon trigonocephalus), dan fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus). Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teuku Jacob ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada. Situs Museum Trinil dalam penelitian merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang lebih 1,5 juta tahun yang lalu yang terdapat di kota Ngawi. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya.

Tempat wisata museum Trinil memiliki keindahan yang khas, arsiterturnya yang unik mampu menarik perhatian para wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Areanya yang luas serta fasilitasnya yang memuaskan. Pada halaman museum terdapat tugu peringatan, di halaman museum juga terdapat banyak patung hewan purba, di mana para pengunjung yang datang dapat melihat koleksi binatang purba yang berukuran lebih besar dibanding hewan sekarang. Selain itu berbagai koleksi batu di zaman purba. Dan juga masih memiliki banyak koleksi, terdapat 1.500 fosil, namun yang dipamerkan kepada pengunjung baru sekitar 1.000, selebihnya masih dalam proses penataan dan masih di simpan dalam gudang museum. Melihat fosil yang berada di tempat wisata Museum Trinil ini seakan kita merasakan hidup di tengah masyarakat purba pada ribuan tahun yang lalu. Di mana manusia mampu bertahan hidup dengan keadaan yang masih primitif. terdapat juga fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung. Di kawasan wisata ini terdapat area bermain anak-anak di mana anak-anak bebas bermain sesuai yang diinginkan dengan catatan masih tetap dalam pengawasan, ruang pembelian tiket, ruang informasi, ruang studi koleksi, dan ruang laboratorium, terdapat pula toilet umum, tempat ibadah serta area parkir yang luas dan juga pendopo di halaman depan. konstribusi yang ditentukan kepada pengunjung hanya Rp. 5.000 bagi wisatwan lokal serta Rp. 10.000 bagi wisatawan asing. Adapun jam operasional museum Trinil di buka setiap hari mulai Selasa – Minggu dari pukul 07.30 pagi hingga pukul 15.30 sore. Untuk hari Senin museum ini ini tutup sebagai hari libur spesial.

  1. Air Terjun Suwono

Air Terjun Suwono terletak di Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, yang merupakan salah satu desa yang terletak dikawasan lereng gunung Lawu. Air Terjun Suwono memiliki ketinggian 20 sampai dengan 30 m, dan bercabang menjadi dua. Suasananya yang alami membuat kita merasa damai. Sejuk dan asri karena terletak ditengah hutan pinus dan dari sana kita dapat memandang perkebunan teh jamus. Untuk mencapai air terjun suwono prasarana jalan telah dibuat, dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 1,5 km. Air terjun ini memang terpencil letak nya namun keindahan dan kesegaran suasanya membuat kita berlama – lama disana.

Mayoritas penduduk yang tinggal di daerah ini adalah petani, berbagai macam sayuran seperti cabe, kobis, bawang merah, dan bermacam sayuran lainnya yang ditanam. Suasana pedesaan yang sangat sejuk dan juga kondisi alam yang alami, menambah daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam untuk menikmati keindahan alam pegunungan. Suasananya yang masih alami membuat para wisatawan merasa damai dengan hawa sejuk dan asri karena dikelilingi hutan pinus. Selain pemandangan hutan pinus, terdapat juga pemandangan perkebunan teh Jamus milik Pemkab Ngawi yang berada tidak jauh dari lokasi air terjun. Faktor geografis tersebut lah yang membuat Air Terjun Suwono memiliki nilai lebih dibandingkan air terjun yang ada di Kabupaten Ngawi.

Perpaduan hutan dengan hamparan kebun teh yang sangat luas serta memiliki ketinggian yang relatif tinggi membuat air terjun ini begitu menawan dan memiliki peluang menjadi objek wisata andalan Kabupaten Ngawi. Daya tarik lain dari Air Terjun Suwono yaitu debit airnya yang tidak berubah meskipun pada musim kemarau sekalipun. Dengan kelebihan tersebut, air terjun ini dapat dinikmati sepanjang waktu tanpa musim kunjungan. Untuk harga tiket masuk hanya Rp.3000.

Top