Category: Padang

5 Destinasi Wisata Andalan Di Padang

Kota Padang adalah ibukota dari provinsi Sumatera Barat dan merupakan kota terbesar di Sumatra Barat. Kota yang terkenal dengan legenda Malin Kundang dan Siti Nurbaya. Kota Padang Padang memiliki wilayah seluas 694,96 km² dengan kondisi geografi berbatasan dengan laut dan dikelilingi oleh perbukitan dengan ketinggian mencapai 1.853 mdpl. Kota ini merupakan pintu gerbang barat Indonesia dari Samudra Hindia.Kota ini juga terkenal akan masakannya. Selain menjadi selera sebagian besar masyarakat Indonesia, masakan ini juga populer sampai ke mancanegara. Makanan yang populer di antaranya seperti Gulai, Rendang, Ayam Pop, Terung Balado, Gulai Itik Cabe Hijau, Nasi Kapau, Sate Padang dan Karupuak Sanjai. Restoran Padang banyak terdapat di seluruh kota besar di Indonesia. Meskipun begitu, yang dinamakan sebagai “masakan Padang” sebenarnya dikenal sebagai masakan etnis Minangkabau secara umum. Kota Padang memiliki kultur yang beragam, tipe orangnya pun juga beragam, adat bersandi sarak, sarak bersandi Kitabullah itulah semboyan masyarakat minang yang melekat hingga kini. Namun, selain kulinernya, Padang juga memiliki tempat-tempat wisata menarik. Berikut ini wisata andalan yang ada di Padang.

  1. Pantai Taplau Padang

Pantai Padang sangat terkenal di Kota Padang dan juga menjadi ikon kota padang. Pantai Padang lebih popular disebut Taplau Padang. Taplau adalah istilah orang Padang menamakan pantai Padang, sebenarnya kalimat Taplau merupakan singkatan Tapi Lauik (tepi pantai). Pantai Padang memiliki garis pantai yang panjang. Di salah satu sisi, latar belakang laut dilengkapi dengan sebuah bukit yang disebut sebagai Gunung Padang. Banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke pantai yang satu ini selain pemandangan yang indah pantai ini juga memberikan suasana yang begitu tenang banyak sekali wisatawan lokal yang datang ke tempat wisata yang satu ini. Pantai padang berlokasi di pusat kota Padang yang bisa dengan mudah dicapai sehingga selalu dipadati oleh warga kota Padang yang ingin bersantai dan menghilangkan penat dari segala rutinitas sehari-hari.

Pantai yang tidak memiliki pasir ini dan terdapat sebuah lokasi dimana tersedia area bermain khusus anak-anak sehingga sangat cocok untuk orangtua yang ingin mengajak anak berekreasi pada akhir pekan. Di Pantai Padang pengunjung dapat menikmati matahari yang perlahan-lahan turun berubah menjadi senja. Lalu mulai menyentuh cakrawala dan menebar sinar terakhir. Pantai Padang juga memiliki beberapa pedagan makanan di warung tenda berdiri berjejer di tepi pantai, terutama pantai di depan Taman Budaya. Anda bisa menikmati minuman dingin maupun makanan ringan. Sebagai teman bersantai, Anda bisa beli kacang rebus ataupun telur rebus yang dijajakan oleh pendakang ataupun makan rujak khas Padang seru juga dinikmati di sore hari. Selain itu anda juga bisa memancing di kawasan itu batu-batu yang di pasang untuk menahan gelombang bisa di pakai untuk tempat memancing, batu tersebut menjorok ketengah laut.

Tak hanya menikmati matahari tenggelam, Taplau ini juga bisa di pakai ajang untuk mandi-mandi bagi yang pandai berenang. Jalan di tepi pantai yang datar dan lurus juga banyak di gunakan oleh para pengendara sepeda untuk berolahraga pada pagi hari maupun sore, bagi anda yang ingin bersepeda juga namun tidak sempat membawa sepeda atau bahkan tidak memiliki sepeda, anda tidak perlu berkecil hati karena di sekitar pantai banyak terdapat penyewaan sepeda, tarif rata-rata sewa sepeda per jam nya cukup murah kok, hanya Rp 10.000/Jam. Pada malam hari pemandangan pantai padang sangat unik karena terdapat banyak lampu-lampu seperti ada perkampungan dari kejauhan, yang sebenarnya adalah lampu-lampu yang berasal dari kapal nelayan yang sedang menangkap ikan. Tidak ada biaya masuk, cukup untuk biaya parkir saja kalau anda datang di daerah ini yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pusat Kota Padang ke arah barat.

  1. Pantai Air Manis

Pantai Air Manis atau Pantai Aie Manih merupakan salah satu pantai terkenal yang sering dikunjungi yang ada di kota Padang. Bukan berarti pantai ini mempunyai air yang manis. Secara geografis Batu Malin Kundang terletak di daerah Pantai Air Manis, Kelurahan Aie Mani, Kecamatan Padang Selatan, Padang, Provinsi Sumatera Barat. Untuk menuju ke lokasi wisata legenda ini Anda dapat menempuhnya dengan menggunakan kendaraan roda empat atau juga roda dua. Karena jalurnya yang sempit, maka Anda diharuskan untuk berhati-hati, walaupun jalannya sudah diaspal, tetapi lebarnya hanya 4 meter saja. Sangat disarankan agar kecepatan kendaraan Anda cukup 40 Km/jam, apalagi ketika cuaca sedang hujan. Dengan hanya menempuh lebih kurang 20-30 menit perjalanan dari pusat Kota Padang, maka Anda sudah dapat menikmati tempat ini. Pantai Air Manis memiliki pasir yang berwarna coklat keputih-putihan yang terhampar luas dan landai di sepanjang bibir pantai. Oleh  karenanya, pantai ini sangat cocok untuk tempat piknik, bermain ombak, surfing dan camping.

Di pantai ini anda juga akan bisa menemukan batu Malin Kundang yang ceritanya sudah sangat legenda di Indonesia. Legenda Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Di pesisir pantai, ada sebuah batu besar seperti manusia dengan posisi tertelungkup. Konon, batu itu adalah Malin Kundang yang dikutuk oleh ibunya, karena telah menjadi anak durhaka. Kisah Malin Kundang sendiri bercerita mengenai seorang anak yang tidak mengakui ibu kandungnya sendiri setelah ia menjadi seorang yang kaya raya. Kemudian Malin Kundang dikutuk menjadi batu, dan batu tersebut berada di Pantai Aie Manih (Pantai Air Manis). Selain terkenal dengan batu Malin Kundang, pantai ini juga menawarkan mendapatkan bentang Samudra Hindia dan pemandangan yang indah dengan Gunung Padang sebagai latarnya, serta gelombang yang aman untuk wisata pantai. Selain memiliki panorama yang indah, ombak di pantai ini juga tidak terlalu tinggi. Menjadikannya sebagai salah satu obyek wisata populer bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Tidak jauh dari lokasi Batu Malin Kundang terdapat sebuah pulau kecil bernama Pulau Pisang Kecil. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari lokasi Batu Malin Kundang. Untuk dapat ke Pulau Pisang Kecil, pengunjung dapat menyewa perahu atau bisa juga dengan berjalan kaki. Namun perlu diingat, bila memilih berjalan kaki, maka Anda harus segera kembali ke Pantai Air Manis sebelum pukul 16.00 WIB, karena air laut biasanya sudah mulai pasang. Beberapa penginapan yang sebagian besar dikelola oleh masyarakat setempat dapat Anda temui di sini. Selain itu, rumah makan serta kios aneka souvenir juga tersedia di sini.

Selain berenang ataupun sekedar bersantai di tepi pantai, pengunjung juga dapat membeli souvenir khas berupa terumbu karang serta kerang dalam berbagai bentuk dengan harga sekitar Rp 5.000,- hingga Rp 50.000,-. Jika Anda ingin berlama-lama menikmati Pantai Air Manis, Anda tidak perlu khawatir untuk mencari tempat bermalam di sekitar kawasan wisata pantai, karena tersedia penginapan dengan harga yang terjangkau, karena sebagian besar penginapan tersebut dikelola oleh masyarakat sekitar. Untuk urusan makan, tersedia warung makan yang berada di sepanjang Pantai Air Manis. Selain itu beberapa fasilitas seperti tempat parkir, toko souvenir, toilet umum, persewaan papan selancar dan tempat ibadah juga sudah tersedia.

  1. Gunung Padang

Gunung Padang merupakan objek wisata yang menjadi legenda hidup cerita Siti Nurbaya. Gunung Padang merupakan objek wisata yang sangat strategis berada di pusat kota kira-kira lebih dari 5 km atau berjarak 1 km dari Kantor Balai Kota Lama Padang, tepatnya Kelurahan Kampung Seberang Pabayang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Kita bisa melewati sepanjang pesisir Pantai Padang, kemudian menuju arah jembatan Siti Nurbaya. Ikuti saja jalan hingga ke bawah jembatan, lurus terus dengan menyusuri tepian sungai Batang Arau hingga menuju arah Gunung Padang yang berada di muara sungai. Masyarakat Kota Padang menamainya Gunung Padang karena bukit ini bisa dikatakan tempat tertinggi disekitar pusat kota. Gunung Padang menyimpan kombinasi antara panorama yang indah, legenda cinta, dan sepenggal sejarah masa kependudukan Jepang. Masuk ke areal objek wisata pun dengan menggunakan karcis masuk  sebesar  Rp.5000 untuk dewasa dan Rp.3000 untuk anak-anak. Nah, untuk setiap kendaraan yang diparkir akan dikenakan biaya sebesar Rp.3000 per unitnya.

Akses menuju Gunung Padang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pengunjung bisa memarkirkan kendaraan di kaki gunung tersebut sebelum melanjutkan dengan berjalan kaki. Uniknya, jalan menuju Gunung Padang itu pengunjung harus mendaki ratusan anak jenjang yang panjang dan berliku. Kepenatan menaiki anak tangga akan terobati saat melempar pandangan ke sebelah kanan. Di sisi kiri jalan sesekali kita akan menemukan bangunan tua bekas peninggalan pada masa pendudukan Jepang. Di sini kita bisa melihat beberapa bangunan tua beserta meriam yang digunakan oleh Jepang untuk mengawasi kapal yang keluar masuk Pelabuhan Muaro. Pada sisi kanan jalan menjelang puncak kita akan menemukan sebuah celah batu yang berbentuk gua dengan tangga menurun. Menurut keterangan salah seorang pemandu, tempat ini adalah lokasi makam dari Siti Nurbaya, tokoh utama dalam sebuah kisah legendaris Minangkabau. Di bukit tersebut, pernah ditanam jasad Siti Nurbaya yang mewakili budaya kelam kawin paksa wanita Minang. Kisah roman Kasih Tak Sampai: karangan Marah Rusli tersebut bermula dari keelokan Gunung Padang. Bukit yang tak begitu tinggi tersebut juga dimanfaatkan kalangan pencinta olahraga climbing untuk menguji nyali. Tak jarang empat jalur pemanjatan yang ada di kawasan Siti Nurbaya tersebut menjadi dinding alam favorit bagi para climber.

Untuk mengabadikan Judul novel ini Pemerintah Kota Padang membangun sebuah jembatan yaitu Jembatan Siti Nurbaya yang menjadi satu satunya penghubung antara kota Padang dengan Bukit Gado Gado atau dikenal juga dengan bukit Sentiong ,yang terbelah oleh Sungai Batang Arau yang bermuara di Samudra Indonesia. Sehingga setelah anda pulang dari Gunung Padang anda dapat mampir ke jembatan ini. Dari jembatan ini kita dapat menyaksikan ratusan speed boat ,baik untuk menangkap ikan,maupun yang digunakan untuk mengangkut turis yang ingin bergabung dengan wisata diving. Waktu yang paling cocok untuk mengunjungi lokasi wisata ini adalah pada waktu menjelang matahari terbenam, karena Anda dapat menyaksikan keindahan pemandangan matahari terbenam dari jembatan Siti Nurbaya tersebut. Setelah itu area di sekitar jembatan akan dipenuhi oleh para penjual makanan yang menawarkan kuliner khas Padang dengan harga yang cukup bersahabat. Menikmati keindahan lereng gunung Padang yang penuh kerlap-kerlip lampu dari pemukiman penduduk di sekitar gunung yang semakin padat.

  1. Museum Adityawarman

Museum Adityawarman terletak di Jalan Diponegoro No. 10 Kelurahan Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Berdiri di tengah lahan seluas 2,6 hektar, museum dengan luas bangunan sekitar 2.855 meter persegi ini dibangun dengan mengambil inspirasi arsitektur dari rumah bagonjong atau rumah gadang yang merupakan ciri khas gaya arsitektur tradisional Minangkabau. Rumah bagonjong sendiri merupakan rumah panggung dengan atap meniru bentuk seperti tanduk kerbau yang bertumpuk. Jumlah gonjong yang ada di atap museum ini sendiri berjumlah tujuh pucuk. Museum ini merupakan salah satu museum terpenting yang mengangkat sejarah masyarakat Minangkabau dan peninggalan kebudayaan mereka sejak masa prasejarah hingga era modern. Museum ini juga bisa disebut sebagai taman mininya Sumatra Barat. Disini kita dapat mengenal berbagai pernak-pernik kehidupan masyarakat Minang dari koleksi yang dimilikinya.

Museum ini mulai dibangun pada tahun 1974, sebagai sebuah pusat pelestarian benda bersejarah yang meliputi cagar budaya Minangkabau, cagar budaya Mentawai, dan secara umum cagar budaya Nusantara. Peresmiannya sendiri dilaksanakan pada 16 Maret 1977 oleh Mendikbud yang menjabat ketika itu, Prof. Dr. Sjarif Thayeb. nama sebelumnya adalam Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat. Nama Adityawarman dikutip dari nama seorang penguasa atau Raja besar yang dulunya pernah berkuasa di Minangkabau, satu jaman dengan Kerajaan Majapahit pada masa kejayaan Patih Gajah Mada. Museum ini memiliki tampilan pemandangan luar yang hijau dan asri. Di dalam Museum Adityawarman para wisatawan akan disuguhi 5781 koleksi arkeologi, keramologika, numismatika dan heralsika, etnografika, seni rupa, teknologika, biologika, historika, geologika serta filologika.

Di museum ini, Anda bisa belajar mengenai sistem kekerabatan yang  unik dari Minangkabau. Berbeda dari daerah lainnya di Indonesia yang pada umumnya memegang sistem kekerabatan patrilineal, Minangkabau menggunakan sistem matrilineal. Sehingga, bisa dikatakan peran wanita di Minangkabau ini lebih tinggi dibandingkan pria. Selain itu Kesenian banyak ditampilkan dalam upacara-upacara adat, salah satunya  adalah upacara pernikahan. Di salah satu sudut museum terdapat ruang peragaan pelaminan pernikahan adat Minang. Tentu saja ruangan ini menjadi salah satu yang paling diminati oleh pengunjung. Jam Buka: Selasa – Minggu  : Pukul 08.00 – 16.00 Wib; Jum’at : Pukul 08.00 – 16.00 Wib; Senin: Khusus ruang pameran (tutup) dan sedangkan untuk Karcis masuk Dewasa: Rp 2.000,- (termasuk asuransi Rp 100) dan Anak – anak: Rp 1.000 (termasuk asuransi Rp 50). Khusus untuk rombongan hanya membayar separuh dari jumlah rombongan.

  1. Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lembah Anai adalah salah satu ikon pariwisata di Provinsi Sumatera Barat yang biasa disebut juga sebagai Aia Mancua ataupun Aia Tajun oleh orang­-orang Padang. Terletak di pinggir jalan yang menghubungkan Kota Padang dan Kota Bukittinggi, tepatnya di Nagarai Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, sekitar 38 km dari arah Batusangkar. Air Terjun ini menghubungkan Kota Padang dan Kota Bukittinggi, dua kota yang menjadi sentra bagi tata pemerintahan, pertumbuhan ekonomi, dan pariwisata di Provinsi Sumatra Barat. Ini adalah kawasan konservasi cagar alam Lembah Anai yang di tetapkan semenjak kolonial Belanda. Hal ini dapat diketahui melalui surat keputusan No. 25 Stbl No. 756 yang dikeluarkan pada tanggal 18 Desember 1922 oleh pemerintah Hindia Belanda. Saat itu, kawasan yang ditetapkan sebagai cagar alam mencakup areal seluas 221 ha dan masih dipertahankan hingga sekarang. Selain itu buktinya adalah pembangunan jalur kereta api oleh Belanda di area ini. Kawasan ini memiliki hamparan hutan hujan tropik yang lebat dengan aneka ragam jenis flora dan fauna. Air terjun ini merupakan bagian dari aliran sungai Batang Lurah yang berhulu di atas Gunung Singgalang. Air terjun ini memperoleh pasokan airnya dari Gunung Singgalang.

Dengan tinggi mencapai 50 meter, Air Terjun Lembah Anai ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Terlebih ketika menyaksikan pemandangan kabut dengan pelangi warna-warni saat tempat ini terpapar cahaya matahari. Hawanya menyejukkan, tenang dan pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Jika ingin berkunjung ke tempat ini pun sangat mudah. Bisa menggunakan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. Untuk angkutan umum, tersedia angkot menuju lokasi Kawasan Cagar Alam Lembah Anai dengan ongkos berkisar 30 ribu rupiah per orang. Selain itu, ada pula kereta yang beroperasi setiap hari minggu dengan tiket yang lebih murah. Air Terjun Lembah Anai Padangi sendiri memiliki air jernih yang mengalir dari lokasi Gunung Singgalang dengan menyusuri perbukitan hingga menuju lereng, sampai mengalir melalui cagar alam dari Lembah Anai hingga akhirnya sampai di bagian tepi tebing.

Untuk tiket masuk menuju tempat wisata Lembah Anai ini ditarif dengan harga Rp.1500 saja per orangnya. Namun, harga ini bisa berubah­-ubah sesuai dengan ketetapan dari pihak pengelola Lembah Anai Sumatera Barat. Anda bisa menikmati berbagai macam fasilitas yang tersedia di sekitar lokasi wisata Lembah Anai ini, karena di sekitar lokasi sendiri ada banyak jajanan yang menjajakan minuman maupun makanan. Anda juga bisa membeli oleh­oleh di sini tanpa harus pergi lagi ke pusat kota. Oleh­oleh yang disajikan di warung yang ada di sekitar Lembah Anai, berupa beras rendang, keripik sanjai, dodol, sampai aneka macam oleh­oleh yang lainnya.

Top