Category: Pontianak

5 Referensi Destinasi Wisata Di Pontianak

Kota Pontianak merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Menjadi salah satu yang terpenting karena letaknya yang pas berada di garis khatulistiwa. Sehingga kota ini dijuluki “Zamrud Khatulistiwa”. Kota ini memang menjadi salah satu wilayah di dunia yang dilalui oleh garis imajinasi yang membagi bumi menjadi dua bagian, utara dan selatan. Pada saat siang hari di tanggal-tanggal tertentu, tepat berada di garis khatulistiwa, bayangan akan tidak terlihat lagi karena cahaya matahari yang pas berada di tengah-tengah langit. Untuk menguatkan predikatnya sebagai Kota Khatulistiwa, di Pontianak didirikan sebuah tugu tepat di lokasi yang diduga sebagai garis tengah bumi tersebut. Pontianak juga menjadi sangat penting karena berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia dan menjadi pintu gerbang masuk ke Indonesia. Selain itu, Pontianak juga dilalui oleh dua sungai yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai ini bahkan tergambar dalam logo kota. Kota ini memiliki luas wilayah 107,82 kilometer persegi. Kota ini juga memiliki banyak tempat wisata yang bisa menjadi referensi liburan anda. Berikut 5 destinasi wisata di Pontianak yang bisa dijadikan pilihan tujuan liburan Anda:

  1. Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument terletak di Jl Khatulistiwa, Pontianak Utara, Kalimantan Barat, kira-kira 3 km dari pusat kota Pontianak. Tugu Khatulistiwa ini menjadi ikon wisata di Pontianak dan menjadi kebanggaan warga Pontianak. Inilah garis lintang nol derajat bumi, garis yang tepat membelah bumi bagian selatan dan bagian utara. di bangun pada tanggal 31 maret tahun 1928 oleh Tim Ekspedisi Geografi Internasional yang di pimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda, yang dilakukan secara Astronomi, artinya bahwa Pengukuran yang mereka lakukan tanpa mempergunakan alat yang canggih seperti Satelit atau GPS, mereka hanya berpatokan pada garis yang tidak Smooth (garis yang tidak rata/atau bergelombang) serta berpatokan pada benda-benda alam seperti, rasi bintang (ilmu falaq). Tugu Khatulistiwa ini memiliki 4 pilar kayu berlian, dengan 2 pilar bagian belakang lebih tinggi daripada 2 pilar depan. Terdapat sebuah tulisan EVENAAR diantara 2 pilar belakang.

Fenomena menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam saat matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Saat itu, bayangan tugu dan bendabenda di sekitarnya akan menghilang selama beberapa detik. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Tugu Khatulistiwa ini antara tanggal 21 sampai 23 Maret atau tanggal 21 sampai 23 september. Karena pada saat itu matahari tepat berada diatas garis khatulistiwa. Demikian sehingga semua benda yang berada diatas garis khatulistiwa ini tidak memiliki bayangan. Anda bisa mendapatkan sejumlah infromasi tentang garis imajinasi bumi. Beberapa souvenir juga ikut dijajaakan di tempat ini. Anda bisa mengunjunginya secara gratis dan bagi anda yang ingin mencetak sertifikat bukti kunjungan, anda bisa membayarnya sebesar Rp. 10.000,-. Sertifikat tersebut sudah dibubuhi tanda tangan Walikota Pontianak.

Kini tugu itu sudah berusia 75 tahun. Selama kurun waktu itulah Kota Pontianak menjadi salah satu kota yang terkenal di dunia sebagai kota khatulistiwa. Daya tarik tugu tidak terletak pada sisi komersialnya, tetapi justru pada upaya penataan agar serasi dengan alam dan kelestarian Sungai Kapuas. Tugu Khatulistiwa dan Sungai Kapuas adalah ikon pariwisata Kalimantan Barat.

  1. Keraton / Istana Kadriah

Istana ini merupakan peninggalan kesultanan Pontianak yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada 14 Rejab 1185 H bersamaan 23 Oktober 1771M. Saat menentukan di mana lokasi istananya akan dibangun, Syarif Abdurrahman Alkadrie menembakkan meriam tiga kali ke udara. Lokasi jatuhnya meriam itulah yang menjadi lokasi pendirian Keraton Kadriah. Keraton Kadriah ini berada di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak. Keraton Kadriah memiliki luas 60 x 25 meter dan terbuat dari kayu belian pilihan dengan dominasi bangunan berwarna kuning. Keraton ini masih menyimpan berbagai macam benda peninggalan seperti Singahsana, Kaca Pecah Seribu, Al-Quran tulisan tangan dan salasilah keturunan Sultan Pontianak dari sultan pertama, Sultan Sharif Abddurahman Alkadrie hingga kepada sultan kelapan, Sultan Syarif Hamid Alkadrie yang memerintah pada tahun 1945.

Bangunan didominasi oleh warna kuning dan terbuat dari kayu belian, kayu di Kalimantan yang dikenal sebagai kayu besi karena kekuatannya. Di halaman, terdapat meriam kuno peninggalan Jepang dan Portugis. Sedangkan di dalam bangunan, Anda bisa menemukan singgasana sultan dan permaisuri, lengkap dengan foto-foto, pakaian sultan dan berbagai koleksi lain milik sultan. Salah satu koleksi yang unik adalah sebuah Al Quran yang ditulis tangan sendiri oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie. Dari berbagai keraton kerajaan yang berada di lokasi tersebut, Keraton Kadriah dapat disebut sebagai Istana Melayu terbesar. Pengunjung dapat melihat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Prancis di wilayah istana ini. Ada beberapa ruangan pribadi di Keraton Kadriah ini yang boleh dimasuki oleh pengunjung. Sedangkan di dalam bangunan, Anda bisa menemukan singgasana sultan dan permaisuri, lengkap dengan foto-foto, pakaian sultan dan berbagai koleksi lain milik sultan. Salah satu koleksi yang unik adalah sebuah Al Quran yang ditulis tangan sendiri oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie.

  1. Museum Kalimantan Barat

Museum Provinsi Kalimantan Barat dirintis sejak tahun 1974 oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Barat melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Permuseuman Kalimantan Barat. Fungsionalisasinya diresmikan pada 4 Oktober 1983 oleh Direktur Jendral Kebudayaan Depdikbud, sejak itu Museum Kalbar di buka untuk umum, dan kelembagaannya diresmikan pada 2 April 1988. Setelah pemerintah melakukan penyempurnaan bangunan bergaya modern dan tradisional, Museum Kalimantan Barat diresmikan pada 2 April 1988. Ada empat seksi yang bekerja di museum ini, yaitu seksi edukasi , kelembagaan, koleksi dan peralatan. Museum biasanya mengadakan pameran lukisan yang di tampilkan di selasar museum.

Terdapat 5027 buah koleksi dipamerkan di Museum Kalimantan Barat. Museum ini menyimpan di antaranya koleksi Geografika/Geologika berupa peta dan jenis batu-batuan; koleksi biologika, arkeologika, historika, numismatika, dan keramologika berupa tempayan, piring, mangkuk, sendok, dll. yang berasal dari China, Vietnam, Jepang, Eropa, dan keramik lokal Singkawang. Selain menampilkan koleksi yang ada di Ruangan Pameran Tetap I, Museum Provinsi Kalimantan Barat juga menampilkan koleksi replika dan miniatur yang berada di plaza Jangkar kapal dagang asing.

Waktu kunjungan di Museum ini adalah Selasa-Kamis buka pukul 08.00-15.00 WIB, Jumat pukul 08.00-11.00 dan 13.00-15.00, Sabtu-Minggu dan hari libur nasional buka pukul 08.00-14.00 WIB, sedangkan untuk hari Senin Museum tutup. Sementara itu harga tiket masuk ke Museum ini bervariasi, untuk anak-anak tingkat pelajar TK hingga Mahasiswa Rp 2 ribu per orang, sedangkan untuk kategori umum Rp 3 ribu per orang, dan untuk wisata asing atau peneliti Rp 10 ribu per orang.

  1. Aloe Vera Center

Aloe Vera Center merupakan sebuah daerah yang khusus untuk melakukan pertanian terhadap tanaman lidah buaya. Kawasan Agro Wisata Aloe Vera Center kurang lebih sekitar 8,5 Km dari pusat Kota Pontianak, tepatnya di Jalan Budi Utomo, Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Kota Pontianak yang memiliki struktur tanah gambut (pH tanah asam) menyebabkan suburnya pertumbuhan tanaman lidah buaya. Potensi ini dimanfaatkan dengan mendirikan kawasan agro wisata Aloe Vera Center yang terkenal di kalangan masyarakat serta wisatawan lokal maupun mancanegara.

Di kawasan Aloe Vera Center ini, juga terdapat Orchid Center, yaitu : pusat pembudidayaan berbagai macam anggrek, termasuk anggrek hitam yang merupakan jenis anggrek khas Kalimantan yang kini sudah mulai langka. Aloe vera adalah tumbuhan atau tanaman yang sudah digunakan berabad-abad untuk berbagai macam tujuan. Sejak 4.000 tahun yang lalu, Aloe Vera telah dikenal khasiatnya karena di dalam daunnya mengandung berbacam macam nutrisi. Aloe vera sebenarnya berasal dari kepulauan Canari, Afrika Utara. Di Kota Pontianak, Aloe vera dikenal dengan sebutan Lidah Buaya. Pada tahun 1990, Lidah Buaya mulai dibudidayakan. Aloe Vera Centre didirikan pada tahun 2002. Lidah Buaya Pontianak termasuk dalam jenis Aloevera Chinensis. Jenis Lidah buaya ini dapat terus dipanen hingga umur 12 hingga 13 tahun. Di derah Pontianak, lidah buaya ini dapat berkembang menjadi lidah buaya yang memiliki kualitas super karena setiap pelepahnya memiliki berat sekitar 0,8 sampai 1,2 kilogram. Jika dibandingkan dengan jenis lain seperti lidah buaya Amerika dan Cina yang beratnya hanya 0,5 sampai 0,6 kilogram, tentu Lidah Buaya Pontianak adalah komoditi spesial.

Di kawasan ini dapat dilihat bagaimana Aloe vera dibuat menjadi tepung dan berbagai jenis makanan seperti dodol, minuman dan berbagai jenis sajian lainnya. Nutrisi yang terkandung pada Aloe vera dapat digunakan sebagai pencegah berbagai macam penyakit, menjaga kebugaran seksual, perawat kulit dan kosmetik. Berbagai macam makanan dan minuman hasil olahan Aloe vera banyak tersedia di toko-toko dan pusat perbelanjaan di Kota Pontianak. Pengunjung yang memasuki wilayah ini akan dapat mencicipi produk minuman lidah buaya yang masih segar ataupun menjadikannya sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat sendiri bagaimana tanaman Aloe vera tersebut diolah secara higienis dengan memanfaatkan teknologi tepat guna menjadi tepung dan bermacam-macam jenis makanan khas berupa dodol, jelly, cokelat, minuman sari lidah buaya, teh dan berbagai macam jenis kuliner khas lainnya. Produk olahan dari industri ini telah diekspor ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Aloe Vera Center Pontianak juga menerima kunjungan industri/edukasi rombongan dari berbagai komunitas maupun instansi, baik sekolah, pemerintah maupun swasta. Di lokasi Aloe vera centre ini terdapat juga Orchid Centre, yaitu pusat pembudidayaan berbagai macam jenis anggrek, termasuk anggrek hitam, species anggrek khas Kalimantan yang kini sudah mulai langka.

  1. Rumah Betang Radakng Pontianak

Rumah Betang Radakng merupakan replika rumah adat suku Dayak di Kalimantan Barat yang sengaja dibangun oleh pemerintah kota. Atau juga disebut rumah betang, rumah panjang, long house atau ‘longhouse’ . Dalam kasanah literatur sering disebut dengan ‘Borneo longhouse’. Di Kota Pontianak, ada dua replika rumah betang. Pertama di Jalan Letjen Sutoyo,  yang kedua di Jalan Sutan Syahrir dengan sebutan ‘Rumah Radakng’. Rumah Radakng ini menjadi rumah adat terbesar di Indonesia dengan panjang 138 meter dan tinggi 7 meter. Rumah Radakng yang berusia hampir 140 tahun itu hingga kini masih dihuni. Rumah panjang itu tidak kehilangan nilai eksotisnya. Rumah ini memiliki 42 bilik yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga.

Rumah Radakng ini dapat Anda kunjungi di jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak. Radakng dalam bahasa Dayak Kanayatn artinya adalah rumah betang atau rumah panjang. Rumah radakng ini menjadi simbol semangat kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan masyarakat Dayak. Rumah betang yang dibangun dari kayu ulin ini dihiasi dengan ukiran dan lukisan khas Dayak. Bangunannya terdiri dari tiga bagian, yaitu: teras atau pante, ruang selasar untuk berkumpul seluruh anggota keluarga, dan ruang tidur. Ruang utamanya mampu menampung hingga 600 orang. Halamannya yang luas kerap menjadi tempat dilakukannya berbagai atraksi budaya.

Berbeda dengan rumah atau bangunan modern lainnya, ciri khas bangunan rumah betang adalah hampir semua bahannya terbuat dari kayu ulin, mulai dari tiang penyangga, dinding, lantai, tangga hingga atapnya. Dirumah ini juga dibuat sebuah tempat seperti aula yang menjadi tempat pertemuan para penghuni rumah betang. Tempat ini digunakan untuk aktifitas para penduduk, mulai dari mengayam, bercengkrama dan kegiatan lainnya. Di aula ini jugalah dilaksanakannya beragam kegiatan dan acara adat suku dayak.

Top