Category: Semarang

5 Destinasi Wisata Bersejarah di Semarang

Ada banyak sekali tempat wisata yang menarik di Semarang untuk dikunjungi saat liburan tiba. Secara geografis Semarang memang terletak di dataran rendah Pulau Jawa. Semarang merupakan ibukota dari Provinsi Jawa Tengah dan juga merupakan kota metropolitan terbesar ke-5 di Indonesia setelah Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Semarang sangat dikenal dengan lumpianya dan gedung lawang sewunya. Selain itu Kota Semarang sendiri mendapat julukan sebagai kota atlas. Berikut ini beberapa destinasi wisata bersejarah yang menarik di Semarang.

  1. Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah salah satu bangunan bersejarah yang ada di Semarang dan menjadi icon di kota semarang. Selain itu juga menjadi salah satu objek wisata yang menarik di Semarang yang menghadirkan keindahan arsitektural bangunan yang unik. Meskipun lokasi wisata tersebut terbilang angker dan penuh mistis, tetapi Lawang Sewu tetap menjadi tujuan wisata nomor satu di kota ini. Bangunan peninggalan masa lampau ini mampu menyuguhkan sebuah pemandangan yang disukai banyak kalangan, terutama para penikmat fotografi. Lawang Sewu terletak di kawasan Bundaran Tugu Muda, kota Semarang, Jawa Tengah atau atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Lawang Sewu dalam bahasa Indonesia berarti “Pintu Seribu”. Warga Semarang menyebutnya demikian karena gedung ini mempunyai pintu dan jendela berukuran besar menyerupai pintu yang berjumlah sangat banyak. Riwayat Lawang Sewu Semarang dimulai sejak tahun 1904 yang merupakan fase awal pembangunan bangunan tersebut dan terselesaikan 3 tahun kemudian. Rancangan bangunan dibuat oleh dua orang Belanda yang bernama B.J. Quendag dan J.F. Klinkhamer. Cetak biru denah bangunan Lawang Sewu ini ditandatangani pada tahun 1903 di Amsterdam. Bangunan atau gedung Lawang Sewu dulunya yang merupakan kantor dari Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini pernah menjadi lokasi pertempuran antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang selama 5 hari (14 Oktober -19 Oktober 1945). Oleh karena itulah Pemerintah Kota Semarang memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Terdiri dari dua lantai dan memiliki dua sayap bangunan yang membentang ke kanan dan kekiri. Bangunan ini dilengkapi dengan Ballroom, Gedung serbaguna, ruang makan hingga gedung pertunjukan. Ketika memasuki bangunan ini Anda akan disambut dengan lorong-lorong panjang yang dipenuhi dengan pintu dan jendela-jendela kayu di kanan-kirinya. Keindahan arsitekturnya juga cocok bagi Anda yang ingin melakukan foto Pre wedding atau sekedar hoby foto untuk koleksi pribadi saja. Lawang Sewu juga memiliki ruang bawah tanah. Tetapi, Anda harus membayar lagi tiket masuk untuk dapat masuk ke ruang bawah tanah ini. Di masa lampau, ruangan yang semula berfungsi sebagai saluran pembuangan air ini pernah dijadikan sebagai penjara. Saat akan memasuki ruang bawah tanah, Anda dapat memabaca larangan untuk melakukan segala aktivitas berbau mistis. Untuk menelusuri ruangan bawah tanah ini, Anda perlu menerobos genangan air yang cukup tinggi.

Objek wisata Lawang Sewu dibuka setiap hari dari mulai pukul 06.00 dan tutup pada pukul 21.00 wib. Untuk harga tiket masuknya Dewasa; Rp 10.000,- dan Rp.30.000,- untuk masuk ruang bawah tanah, Anak-anak dan pelajar; Rp.5.000,- dan untuk sewa guide Rp.30.000,- (diharuskan menggunakan guide).

  1. Vihara Buddhagaya Watugong

Selain lawang sewu , semarang memiliki tempat wisata sejarah yang lain, yaitu Vihara Buddhagaya Watugong. Terletak di jalan raya Pudakpayung Watugong. Dari pusat Kota Semarang, Anda dapat mencapai Vihara Buddhagaya dengan perjalanan selama 45 menit dengan mobil ke arah Ungaran, atau jalan menuju Solo – Jogja. Karena letaknya yang berada di pinggir jalan besar dan tepat di depan Markas Kodam IV Diponegoro, Watugong, Vihara Buddhagaya dapat diakses dengan mudah. Kawasan ini dinamakan Watugong karena di daerah tersebut ditemukan batu (watu) yang bentuknya seperti gong. Pagoda Buddhagaya Watugong adalah sebuah Vihara yang dilakukan peresmian pada tahun 2006 silam, dan juga sekaligus dinyatakan di dalam MURI sebagai Pagoda tertinggi yang ada di indonesia. Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong yang mempunyai luas 2,25 hektar ini terdiri dari 5 bangunan utama dengan 2 bangunan utama, yaitu Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Dhammasala yang dibangun pada tahun 1955. Selain itu, dalam kompleks Vihara Buddhagaya Watugong terdapat pula Monumen Watugong, patung Dewi Kwan Im, patung Buddha di bawah pohon Bodhi yang terletak di pelataran vihara, patung Buddha tidur berwarna coklat dengan pakaian dan tubuh berwarna emas di sebelah kiri pagoda, serta kolam teratai di sekitar pagoda. Pohon Bodhi (Ficus Religiosa) yang ada di pelataran Vihara Buddhagaya ini ditanam oleh Bhante Naradha Mahathera pada tahun 1955.

Salah satu ikon dari Vihara Buddhagaya Watugong ini adalah sebuah Pagoda yang bernama Pagoda Acalokitesvara, atau yang biasa dikenal dengan nama Metakuruna. Pagoda tersebut memiliki arti sebagai pagoda yang memiliki cinta serta kasih sayang. Pagoda Acalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh.

Di depan Vihara Buddhagaya, terdapat cottage untuk menginap yang disediakan oleh pengurus vihara. Pengurus Vihara Buddhagaya tidak mematok tarif retribusi untuk pengunjung, Anda dapat membayar retribusi masuk ke kompleks vihara seikhlasnya. Jam buka Vihara Buddhagaya adalah 07.00-21.00 WIB, pengunjung diwajibkan untuk memakai baju tertutup dan berbicara dengan sopan.

  1. Klenteng Sam Poo Kong

Selain lawang sewu dan Vihara Buddhagaya Watugong, semarang juga memiliki wisata sejarah dan religi lainnya, yaitu Klenteng Sam Poo Kong. Sam Poo Kong merupakan sebuah bangunan klenteng, yaitu sebuah bangunan yang difungsikan sebagai tempat beribadah masyarakat China, tak heran jika seluruh bangunan di Klenteng Sam Poo Kong berwarna merah dan kuning khas negeri China. Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Gedong Batu. Ada yang mengatakan nama ini dipakai karena asal mula tempat ini adalah sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Tetapi ada sebagian orang yang mengatakan bahwa sebenarnya asal kata yang benar adalah Kedong Batu, alias tumpukan batu-batu alam yang digunakan untuk membendung aliran sungai.

Kelenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Oleh karena itu tempat ini disebut Gedung Batu, karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Komplek Klenteng Sam po Kong terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng). Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien (Zheng He).

Fasilitas yang tersedia di Klenteng Sam Poo Kong yaitu; WC, Mushola, Tempat parkir, Spot foto dan Pusat informasi. Untuk Harga Tiket Masuk Sam Poo Kong adalah Wisatawan Domestik Rp 5.000/orang dan wisatawan asing Rp 15.000/orang, Foto menggunakan pakaian khas China Rp.70.000/orang. Dan untuk Jam Bukanya pukul 06:00-23:00 WIB. Untuk masalah penginapan, karena lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota Semarang, jadi kamu bisa mencari hotel di pusat kota.

  1. Kota Lama Semarang

Kota Lama Semarang atau sering disebut “Little Netherland”. Kota lama semarang merupakan tempat wisata bersejarah lain yang ada di semarang. Anda dapat menemukan rekaman tata bangun wilayah berarsitektur Eropa yang ada di tempat ini. Kota lama semarang berada di Jl. Letjen Suprapto, Tanjungmas, Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Kota Lama di Semarang ini adalah sentra perekonomian dan budaya masyarakat Jawa Tengah, juga menjadi pusat pemerintahan pada zaman Hindia Belanda. Area disekitaran kawasan Kota Lama juga sering disebut dengan Outstadt, yang mana luas dari wilayah ini adalah sekitar kurang lebih 31 hektar. Jika kita melihatnya dari kondisi geografis maka wilayah ini dipisahkan oleh daerah yang ada disekitarnya. Sehingga dari itu semua, terlihat kawasan ini seperti kota tersendiri.

Mengenai tarif yang dipatok untuk mengunjungi tempat wisata Kota Lama Semarang, sama sekali tidak ada meminta tarif sedikitpun. Anda bebas mengunjungi serta menelusuri setiap jalan yang ada dikawasan tersebut. Seperti halnya kota-kota lain di Indonesia yang pernah diduduki Belanda, di Kota Lama Semarang juga terdapat benteng sebagai pusat militer zaman dulu. Benteng ini sendiri dibangun di sisi barat Kota Lama Semarang. Sebagai benteng pertahanan,  benteng ini memiliki satu pintu gerbang di bagian selatan lengkap dengan 5 buah menara (mercusuar) yang masing-masing diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk, serta Bunschoten. Selain benteng bekas pelatihan militer, beberapa bangunan kuno peninggalan kolonial yang terletak di kawasan Kota Lama Semarang dan dibuka untuk umum di antaranya adalah: Stasiun Kereta Api Tawang, Gereja Blenduk Semarang, Kantor Gabungan Koperasi Batik Indonesia, Bank Export Import Indonesia, Susteran Ordo Fransiskan, Jembatan Mberok, PT Djakarta Lloyd, Pabrik Rokok Praoe Lajar, PT Pelni, PT Perkebunan XV, Polder Air Tawang, dan Area Tengah Kota Lama.

  1. Komplek Pecinan Semarang

Salah satu kawasan wisata yang sering dikunjungi guna sebagai tempat mengenang sejarah di kota Semarang. Tempat ini memiliki cukup banyak sejarah yang tak kalah banyaknya dengan kota Semarang itu sendiri sendiri. Komplek Pecinan Semarangjuga sering disebut Gang Baru. Gang Baru atau komplek Pecinan menyajikan pemandangan dan suasana khas Tiong Hoa di tengah kota Semarang. Berada di desa kauman, kabupaten semarang,  provinsi  jawa tengah. memiliki sejarah yang tidak kalah panjang dengan Kawasan Kota Lama Semarang, kawasan ini menjadi salah satu pemegang pengaruh besar terhadap pembentukan Kota Semarang dan memiliki nilai historis yang tidak lekang dimakan waktu serta berpontensi sebagai salah satu kawasan wisata budaya. Komplek Pecinan Semarang ini berpengaruh besar terhadap potensi eknomi, budaya, hingga sosial yang begitu terjalin antara ketiga unsur tersebut. Serta membuat tempat ini begitu menjadi primadona bagi orang-orang yang menyukai wisata sejarah.

Walaupun kawasan ini tak seperti zaman dahulu, namun akan tetapi bangunan-bangunan yang terdapat disini, masih banyak yang begitu terjaga keasliannya. Kawasan Pecinan Semarang memiliki beberapa aktifitas masyarakat yang dapat dikatakan semua masyarakat kota Semarang mengetahuinya, seperti :

  • Pasar tradisional Gang Baru, dinamakan sesuai nama jalan itu sendiri dan terletak diantara jalan Wotgandul dan jalan Gang Warung, pasar Gang Baru dapat dikunjungi setiap hari di pagi hari mulai pukul 05.00 sampai selesai.
  • Waroeng Semawis, aktifitas wisata kuliner di semarang, dimana aneka jajanan makanan dan minuman dijajakan sepanjang jalan Gang Warung yang berlangsung setiap hari jumat, sabtu dan minggu mulai sore hari sekitar jam 18.00 sampai selesai.
  • Pasar Imlek Semawis, kegiatan event ini masuk dalam agenda tahunan wisata kota Semarang dan diadakan selama 3 hari dalam rangka menyambut tahun baru Imlek.

Tarif yang ditawarkan untuk masuk kedalam area ini adalah gratis, dan tanpa satupun dipungut biaya. Kecuali jika anda mencoba menitipkan atau memarkirkan kendaraan diwilayah ini, maka akan diminta tarif parkir seperti tempat-tempat lainnya.

Top