Category: Sidoarjo

5 Destinasi Wisata yang bisa dikunjungi ketika di Sidoarjo

Sidoarjo merupakan sebuah daerah yang terletak di Provinsi Jawa Timur dan beribukota di Sidoarjo. Daerah ini berbatasan dengan Selat Madura di sebelah timur, Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya di sebelah utara, Kabupaten Mojokerto di sebelah barat serta Kabupaten Pasuruan di sebelah selatan. Sidoarjo termasuk ke dalam salah satu dari dua penyangga utama Kota Surabaya di samping Gresik. Sidoarjo juga termasuk telah mengalami perkembangan yang pesat terutama karena banyaknya potensi daerah yang dikembangkan dengan baik. Salah satunya adalah dari segi wisata.

  1. Pulau Sarinah

Pulau ini terletak di Kampung Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Pulau Sarinah adalah pulau baru hasil dari sedimentasi lumpur yang keluar dari lumpur Lapindo,. Nyaris 7 tahun lumpur itu dibuang ke Sungai Porong, saat ini membuahkan hamparan pulau buatan di pesisir timur Sidoarjo. Untuk mempermudah perahu merapat, di pulau itu juga didirikan dermaga. Sampai kini, Pulau Sarinah seringkali dipakai pusat riset sebagian kampus serta aktivis lingkungan dengan menanam mangrove di lokasi itu. Untuk mencapai kawasan wisata pantai Tlocor anda bisa langsung menuju  Dermaga Tlocor , atau dengan menempuh perjalanan 15 kilometer ke arah timur setelah melewati jembatan Porong. Setelah tiba di Dermaga Tlocor anda bisa meneruskan perjalanan dengan menyawa perahu yang telah diseMonument Tlocordiakan milik warga setempat.

Namun saat ini, Pulau Sarinah telah mulai di kenal serta jadi jujugan wisatawan lokal lantaran keindahan dari Pantai Tlocor. Para pengunjung dapat menaiki perahu untuk bisa menyusuri pantai ini. Disini anda akan disuguhkan dengan hijaunya tanaman bakau di samping kiri kanan pesisir. Desiran ombak kecil membuat perahumu sedikit bergoyang menjadi tantangan tersendiri untuk kamu coba. Terdapat juga dermaga buatan yang dibuat dengan tujuan untuk memudahkan perahu merapat. Karena  areal yang dimiliki Pulau Telocor cukup luas.

  1. Pantai Kepetingan

Kepetingan juga sering disebut Ketingan sudah lama menjadi objek wisata pantai di Kabupaten Sidoarjo. Terletak Desa Sawohan, Kecamatan Buduran.  Untuk mencapai Pantai Kepetingan  kita bisa menembus dari Bluru Kidul (Sidoarjo), Balongdowo (Candi), Karanggayam (Sidoarjo), Gisik Cemandi (Sedati) dan Kalanganyar (Sedati) menggunakan perahu yang disewakan oleh para nelayan. Kepetingan termasuk sebuah kampung terpelosok di Sidoarjo , dikarenakan dikeliling tambak-tambak, hutan mangrove, serta tak punya kampung tetangga  yang membuat kepetingan tampak terisolasi dari suasana perkotaan.

Pantai Kepetingan ini akan ramai dikunjungi pada hari libur dan puncaknya adalah bila tiba waktu tradisi upacara Nyadran tiba pantai Kepetingan akan terasa sangat penuh, namun apabila hari-hari biasa hanya segelintir orang saja yang terlihat sedang menikmati suasana di pantai Kepetingan. Ritual sedekah laut ini digelar sebagai bentuk syukur warga lokal atas ikan di laut Sidoarjo yang melimpah. Nyadran kian semarak saat dilakukan dengan iring-iringan perahu yang disertai tabuhan gamelan menuju Pantai Kepetingan di pagi hari. Nyadran biasa digelar saat musim libur panjang, sehingga menjadi momen yang pas bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman wisata yang berbeda. Setiap bulan ruwah atau sekitar 1 minggu sebelum bulan puasa, masyarakat mengadakan Nyadran sebagai wujud ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta.

  1. Lumpur Lapindo

Sejak Mei 2006, Jalan di Sidoarjo memang sudah kena imbas daripada Lumpur Lapindo yang meluber dari Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Semburan lumpur panas ini menggenangi pemukiman warga dan lokasi berdampak disekitarnya, akibatnya aktivitas perekonomian warga jadi hilang dan rumah mereka lenyap ditenggelamkan lumpur yang berbau gas alam tersebut.

Namun, ada hal menarik datang dari cerita tragis lumpur panas Lapindo ini, yakni ketika seorang Seniman asal Tegal menyumbangkan ide seninya pada peringatan 8 tahun bencana lumpur lapindo ini yaitu 29 May 2014. Lelaki bernama Dadang itu membuat sejumlah patung yang dibuatnya dari bahan lumpur yang sudah tidak panas. Patungnya dibikin mirip dengan suasana penduduk kampung yang susah karena rumahnya tenggelam oleh lumpur. Bermacam bentuk diantaranya : ibu yang sedang megangin alat dapur, pria yang setengah badannya tenggelam, dan patung-patung yang mengundang empati atas bencana yang menimpa mereka. Nah, sejak saat itulah warga sekitar membuka sebuah tempat yang diberi nama “Wisata Lumpur Lapindo” hal ini mereka manfaatkan untuk mencari rezeki seiring dengan banyaknya orang-orang yang ingin sekedar melihat patung dan kondisi lumpur lapindo saat ini.

Setiap pengunjung yang ingin masuk, melihat-lihat atau berfoto dan selfie di kawasan ini, terkena 3 macam pungutan dari warga. Pertama adalah biaya parkir kendaraan dan masuk ke lokasi sebesar Rp15.000 per orang. Kedua adalah jika pengunjung ingin menggunakan jasa ojek untuk melihat pusat semburan yang berada di tengah kawasan ini, sebesar Rp25.000 per orang. Ketiga, yaitu uang keamanan menuju pusat semburan sebesar Rp5.000 per kendaraan yang masuk. Sehingga total biaya yang yang harus dikeluarkan setiap wisatawan yang ingin menginjakkan kaki di permukaan lumpur yang mengeras adalah Rp45.000.

  1. Candi Pari

Candi Pari terletak di Dusun Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo atau  sekitar 2 km ke arah barat laut dari pusat semburan lumpur Lapindo.. Berdiri diatas tanah seluas 1.310 m2 pada ketinggian ± 4,42 m dari permukaan laut. Lokasi Cadi Pari di kelilingi oleh pemukiman penduduk. Candi ini terletak di desa Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo. Candi Pari ini merupakan bangunan persegi panjang dari batu bata, menghadap ke barat dengan ambang batas dan gerbang yang dibuat oleh batu andesit alam. Di masa lalu, di atas pintu gerbang Candi Pari ada batu dengan angka tahun 1371. Candi Pari ini adalah peninggalan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk AD 1350-1389 Pada kenyataannya, Candi Pari ini mampu memberikan gambaran bagaimana kompleksitas isu-isu ekonomi, aspek politik, budaya, dan sosial yang lain pada waktu itu.

Gaya arsitektur Candi Pari dipengaruhi oleh budaya Campa, yang merupakan daerah di Vietnam sekarang, terutama candi di Mison. Pengaruh ini terlihat pada bangunan dan ornamen, namun Candi Pari masih menunjukkan karakter Indonesia. Menurut legenda foks, Candi Pari ini dibangun untuk comemorated yang kehilangan dari Joko Pandelegan. Dalam arsitektur, Candi Pari memiliki perbedaan dengan candi-candi lain di Jawa Timur. Perbedaan ini muncul dalam bentuk fisik dari Candi Pari yang sebagian besar yg dilembungkan dan tampak kokoh seperti candi di Jawa Tengah. Sedangkan candi di Jawa Timur, sebagian besar dalam bentuk ramping. Selain itu, perbedaan muncul dalam bentuk ornamen kaki, tubuh dan candi.

  1. Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular merupakan museum yang dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan merupakan kelanjutan dari didirikannya lembaga kebudayaan kebudayaan Stedelijk Historisch Museum Soerabaia oleh seorang warga Surabaya yang berkebangsaan Jerman, bernama Von Vaber pada tahun 1933. Museum ini baru diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937. Lokasi Museum Mpu Tantular  memang sering berpindah-pindah karena barang koleksi semakin hari semakin banyak oleh karena itu butuh tempat yang lebih luas. Lokasi awal meseum Mpu Tantular adalah di Jl Pemuda  3 Surabaya , lalu pada pertengahan tahun 1975 dipindahkan ke Jl Mayangkara No 6 , diresmikan kembali pada tahun 12 Agustus 1977 oleh Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyosudarma. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 2004 pindahkan ke lokasi sekarang yaitu jl Raya Buduran dan di resmikan sendiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi JawaTimur, Bapak Dr. H. Rasiyo,Msi.

Bangunan Museum Mpu Tantular terdiri dari sebelas buah yangberdiri di atas lahan seluas 3,28 hektar. Museum Mpu Tantular tersebut menyuguhkan berbagai koleksi didalamnya. Diantaranya koleksi emas, koleksi etnografi, koleksi geologi dan biologi, koleksi historika dan teknologi, koleksi keramologi, koleksi numismatik, koleksi filologi, koleksi senirupa, dan koleksi arkeologi. Mpu Tantular terpilih sebagai nama untuk National Museum Jawa Timur karena untuk menghormati sudut pandangnya tentang hidup di Indonesia dan disebut Daya nya Elemen Nasional Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Mpu Tantular adalah seorang ahli bahasa dari Jawa Timur yang hidup di abad ke-14. Ketika ia memiliki penelitian tentang masa gemilang Kerajaan Majapahit. Sebagai generasi muda yang menghargai sejarah bangsa, maka patutlah kita menenggok Museum Mpu Tantular. Harga tiket masuk ke Museum Mpu Tantular sangatlah murah, hanya dengan merogoh kocek Rp 2.000 untuk dewasa, dan Rp 1.500 untuk anak-anak. Jadwal buka museum tiap hari Selasa hingga Minggu.

Jam Buka Museum ini adalah:
Senin-Kamis: 08:00-15:00 WIB
Jumat: 08:00-14:00 WIB
Sabtu: 08:00-12:30 WIB
Minggu: 08:00-13:30 WIB
Libur Nasional: Tutup

Top